Pengaruh COVID-19 Terhadap Ibu Hamil

Pengaruh COVID-19 Terhadap Ibu Hamil

Adakah pengaruh Covid-19 terhadap Ibu hamil?

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian yang pertama kali diidentifikasi selama penyelidikan wabah di Wuhan, Cina.

Virus ini diperkirakan menyebar terutama di antara orang-orang yang berhubungan dekat satu sama lain melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Mungkin juga seseorang dapat terkena COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang memiliki virus di atasnya dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata mereka sendiri.

Wanita hamil mengalami perubahan imunologis dan fisiologis yang mungkin membuatnya lebih rentan terhadap infeksi pernapasan virus, termasuk COVID-19.  Berdasarkan data yang masih terbatas dan beberapa contoh kasus pada penanganan Coronavirus sebelumnya (SARS-CoV dan MERS-CoV) serta beberapa kasus COVID-19, menurut WHO Ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya penyakit berat dibandingkan dengan populasi umum. Namun belum ada data yang memadai mengenai COVID-19 dan risiko keguguran.

Bila Ibu hamil mengalami gejala termasuk demam ≥38 °C atau gejala lain seperti batuk, kesulitan bernafas atau sesak napas, gejala gastrointestinal (radang atau infeksi saluran pernapasan) maka harus diperhatikan beberapa hal seperti:

-Apakah dia mengalami kesulitan bernafas atau sesak napas?

-Apakah dia mengalami kesulitan menyelesaikan sebuah kalimat tanpa terengah-engah atau perlu berhenti untuk menarik napas ketika berjalan melintasi ruangan?

-Apakah pasien batuk lebih dari 1 sendok teh darah?

-Apakah dia merasakan sakit atau tekanan di dada selain rasa sakit karena batuk?

-Apakah dia tidak bisa menahan cairan?

-Apakah dia menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti pusing saat berdiri?

-Apakah dia kurang responsif dari biasanya atau dia menjadi bingung ketika berbicara dengannya?

Jika salah satu diantaranya dirasakan, maka harus segera menghubungi Satgas Covid-19.  Kemudian, apabila hasilnya positif, maka harus segera melaporkan pada bidan/dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan kehamilan dan karantina mandiri.

Bila Ibu hamil harus dikarantina, maka yang harus diperhatikan selama masa karantina mandiri adalah sebagai berikut:

-Tetap berada di rumah

-Bila harus keluar rumah, tidak boleh menggunakan transportasi umum

-Tinggal dalam ruangan sendiri degan ventilasi yang baik

-Tidak menerima kunjungan

-Memisahkan penggunaan peralatan makan & mandi dari anggota keluarga lainnya

-Tetap menjaga kebugaran

Bila gejala semakin berat maka harus dirawat di RS rujukan, dan USG dilakukan 14 hari setelah masa karantina berakhir.

 

Berikut adalah beberapa rekomendasi penanganan infeksi virus corona (COVID-19)  pada maternal (hamil, bersalin dan nifas) oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.

  1. Selama masa kehamilan
  • Pasien yang masuk dalam pengawasan yang diketahui atau diduga harus dirawat di ruang isolasi khusus di rumah sakit
  • Rutin melakukan pengecekan darah & urinalisasi serta penundaan USG (sampai ada rekomendasi)
  • Penggunaan pengobatan di luar penelitian harus mempertimbangkan potensi keuntungan bagi Ibu dan keamanan bagi janin
  • Perawatan lanjutan dilakukan 14 hari setelah periode penyakit akut berakhir
  • Jika ibu hamil datang di rumah sakit dengan gejala memburuk dan diduga / dikonfirmasi terinfeksi COVID-19 maka harus dibentuk tim multidisiplin melibatkan konsultan dokter spesialis penyakit infeksi, guna mendapatkan penanganan yang terbaik bagi Ibu dan janin.
  • Konseling perjalanan untuk ibu hamil

 

      2. Selama persalinan

  • Jika seorang wanita dengan COVID-19 dirawat di ruang isolasi di ruang bersalin, dilakukan penanganan tim multi-disiplin, namun jumlah staff yang terlibat selama persalinan juga harus diminimalisir
  • Menimbang kejadian penurunan kondisi janin pada beberapa laporan kasus di Cina, apabila sarana memungkinkan dilakukan pemantauan janin secara kontinyu selama persalinan.
  • Sampai saat ini belum ada bukti klinis kuat merekomendasikan salah satu cara persalina, jadi persalinan berdasarkan indikasi obstetri dengan memperhatikan keinginan ibu dan keluarga. Kemungkinan penularan koronavirus intrauterin Ibu-janin rendah, pada kasus SARS atau MERS tidak ada transmisi vertikal/penularan saat persalinan yang dilaporkan.

 

     3. Post-partum/setelah persalinan

  • Ibu dikonseling tentang adanya referensi dari  Cina yang menyarankan isolasi terpisah dari ibu yang terinfeksi dan bayinya selama 14 hari. Pemisahan sementara bertujuan untuk mengurangi kontak antara ibu dan bayi
  • Semua bayi yang lahir dari ibu dengan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau dikonfirmasi COVID-19 juga perlu diperiksa untuk COVID-19
  • Bila ibu memutuskan untuk merawat bayi sendiri, baik ibu dan bayi harus diisolasi dalam satu kamar

 

       4. Rekomendasi selama menyusui

Hingga saat ini belum ditemukan data risiko transmisi/penularan virus Corona pada janin melalui air susu ibu, namun risiko penularan dapat meningkat karena kontak yang erat.

  • Saat ini, perhatian utama bukanlah apakah virus dapat ditularkan melalui ASI, melainkan apakah ibu yang terinfeksi dapat menularkan virus melalui tetesan pernapasan selama periode menyusui. Penularan mungkin terjadi melalui pemberian ASI seperti saat menggendong bayi. Maka perlu dilakukan komunikasi dengan dokter yang merawat Ibu.
  • Untuk wanita yang ingin menyusui, tindakan pencegahan harus diambil untuk membatasi penyebaran virus ke bayi seperti mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, pompa payudara atau botol; mengenakan masker ketika menyusui; pembersihan pompa ASI setelah setiap kali penggunaan, serta mempertimbangkan untuk meminta bantuan orang lain dengan kondisi yang sehat untuk memberi ASI pada bayi
  • Untuk ibu yang memerah ASI, perlu didorong untuk memerah ASI guna menjaga persediaan. Jika memerah ASI menggunakan pompa ASI, pompa harus dibersihkan dan didesinfeksi dengan sesuai.

Sumber: